info@wahdahgowa.or.id    +62 852-4204-6727
TERBARU
  • ...
  1. Beranda
  2. /
  3. Berita
  4. /
  5. Ustadz Harman Membagi Kiat...

Ustadz Harman Membagi Kiat Menjaga Silaturrahim pada Tabligh Akbar Wahdah Gowa

[Gowa, 15 Juli 2015]. Mengawali agenda dan program dakwah pasca Ramadhan dan Syawal di tahun ini, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Gowa menyelenggarakan Tabligh Akbar dan Silaturrahim di masjid Agung Syekh Yusuf Sungguminasa pada hari Ahad tanggal 15 Juli 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari seribu orang peserta yang berasal dari jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gowa, pengurus, kader, simpatisan DPD Wahdah Islamiyah Gowa serta masyarakat kabupaten Gowa.

Tampil sebagai pembicara, Ustadz H. Harman Tajang, Lc., M.H.I., mengawali nasehatnya dengan rasa syukur, ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Pemda Kabupaten Gowa dan pengurus DPD Wahdah Islamiyah Gowa yang telah bersinergi dalam menyebarkan da’wah Islamiyah di kabupaten Gowa. Dalam nasehatnya, ustadz Harman, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Syariah Wahdah Islamiyah dan Direktur Markaz Imam Malik Makassar, menyampaikan pentingnya menjaga kesinambungan amal-amal ibadah pasca Ramadhan. Beliau mengingatkan agar kita terus berdoa dan berharap kiranya Allah menerima segala bentuk amal ibadah yang telah kita tunaikan di bulan mulia tersebut. “Mari kita perhatikan, bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam ketika mendapatkan perintah membangun ka’bah rumah Allah yang mulia. Beliau adalah seorang nabi, tugas beliau adalah membangun ka’bah rumah Allah dan itupun atas perintah Allah, akan tetapi beliau tetap berdoa dan memohon agar amalnya diterima oleh Allah. Allah menyebutkan doa beliau di dalam al-Qur’an, (artinya) “Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)”, demikian beliau mengingatkan dengan suara khasnya yang lantang dan indah ketika melantunkan ayat-ayat al-Qur’an.

Selanjutnya, beliau memaparkan dengan panjang lebar bagaimana kedudukan dan keutamaan silaturrahim di dalam Islam. Di antara amalan yang dapat mengokohkan jalinan silaturrahim menurut beliau adalah sikap tidak mudah menyebar fitnah atau dusta dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Beliau mengangkat kisah hadistul-ifki (berita dusta) yang menimpa ibunda Aisyah radhiyallahu anha dan sahabat Shafwan bin al-Mu’atthal as-Sulami. Beliau menceritakan, “Dalam kisah tersebut, kaum munafik membubuhinya dengan berbagai cerita bohong. Cerita bohong itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, sehingga ada beberapa sahabat yang terfitnah dan tanpa disadari ikut andil dalam menyebarkan berita ini. Salah satu di antara mereka adalah Misthah bin Utsatsah, sepupu dari sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu. Berita dusta itu, membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sedih”. Ustadz Harman, sapaan akrab jamaah kepada beliau, melanjutkan, “Sebulan penuh, ‘Aisyah radhiyallahu anha merasakan kepedihan dan juga Rasulullah. Sampai akhirnya, Allah Azza wa Jalla menurunkan sepuluh ayat al-Quran dalam surah an-Nur ayat 11-20, perihal berita dusta ini untuk menyucikan ibunda Aisyah dari segala tuduhan keji tersebut”.

Dengan suaranya yang sesekali menukik, ustadz Harman melanjutkan kisahnya, “Dengan turunnya ayat ini, maka permasalahan ini pun menjadi jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha merasa lega. Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu anhu tersulut emosinya ketika tahu bahwa Misthah bin Utsatsah, sepupu beliau yang selama ini dibantu ekonominya, ternyata ikut andil dalam menyebarkan berita yang telah melukai hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh kaum muslimin ini. Bahkan sampai beliau radhiyallahu anhu berniat untuk tidak akan membantunya lagi. Lalu turunlah firman Allah Azza wa Jalla, (artinya) “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur : 22)”. Akhirnya Abu Bakar radhiyallahu anhu membantu Misthah kembali karena mengharap ampunan dari Allah Azza wa Jalla”.

Di akhir pemaparannya, beliau juga mengingatkan untuk membiasakan memberi salam kepada kaum muslimin, baik kepada mereka yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal. “Inilah amalan yang mampu menguatkan silaturrahim dan ukhuwah”, kata alumni International University of Africa ini. Beliau mengingatkan hadits Rasulullah, (artinya) “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan (sedekah), sambunglah tali silaturrahmi, shalatlah di malam hari tatkala manusia terlelap tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll Up