info@wahdahgowa.or.id    +62 852-4204-6727
TERBARU
  • ...
  1. Beranda
  2. /
  3. Artikel
  4. /
  5. Kenali Godaan Iblis

Kenali Godaan Iblis

Iblis adalah musuh bebuyutan manusia. Bahkan ia adalah musuh yang nyata. Keberhasilannya dalam menggoda manusia, yang pertama kali, ditandai dengan turunnya nabi Adam dan istrinya Hawa dari surga karena godaannya.

Tentang kedurkahaan iblis, hingga ia dikeluarkan dari surga, dan kemudian berikrar untuk menyesatkan manusia dan menjadi pengikutnya, telah Allah sampaikan kepada kita dalam firman-firman-Nya. Dalam surah Al-A’raf ayat 11-18, disebutkan bahwa kedurkahan iblis bermula saat ia diperintahkan untuk sujud kepada Adam sebagai makhluk ciptaan Allah. Iblis tidak mau mengikuti perintah tersebut. Allah kemudian berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sudah sepantasnya tidak menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Atas vonis tersebut, Iblis berkata, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Dengan izin dan hikmah-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. Tidak sampai di situ, Iblis kemudian mengikrarkan dendam kesumatnya kepada manusia di hadapan Allah. Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. Dengan ikrar iblis tersebut, Allah Azza wa Jalla kemudia berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan isi neraka Jahannam dengan kalian semuanya”.

Begitulah, iblis telah berjanji akan menyesatkan manusia dan akan berusaha semaksimal mungkin agar membawa sebanyak-banyaknya manusia ke dalam api neraka, bagaimanapun caranya. “Keseriusan” iblis atas janjinya terlihat dari rencana besarnya yang akan mendatangi manusia dari hampir seluruh arah. Arah depan, belakang, kanan dan kiri, akan ia pakai untuk menjerumuskan manusia ke dalam kedurkahaan. Seakan-akan, iblis akan mengepung manusia dan berusaha agar manusia tidak bisa lolos darinya. Pertanyaannya, apa maksud ke-empat arah tersebut? Mengapa tidak dari satu arah saja?

Para ulama menyampaikan pendapatnya tentang hal ini, diantaranya oleh Ibnu Katsir rahimahullah, mengutip pendapat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Di antara pendapat yang disebutkan adalah :

Dari arah depan, maksudnya adalah iblis akan menyesatkan manusia dalam perkara akhirat mereka. Iblis akan mengabarkan kepada mereka bahwa tidak ada hari kebangkitan, begitu pula surga dan neraka. Iblis memberikan keraguan tentang hari akhirat.

Dari arah belakang, maksudnya adalah iblis akan menjadikan mereka cinta dunia. Iblis akan menghiasi dan mengajak mereka untuk mengejar dunia.

Dari arah kanan, maksudnya adalah iblis akan membuat syubhat pada perkara agama mereka atau dari sisi kebaikan-kebaikan mereka.

Dari arah kiri, maksudnya adalah iblis akan membuat mereka suka melakukan perbuatan maksiat atau menyesatkan manusia dari sisi keburukan-keburukan mereka.

Pertanyaannya kemudian, mengapa iblis tidak mendatangi manusia dari sebelah atas mereka? Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dan Allah tidak mengatakan ‘dan dari atas mereka,’ karena rahmat (kasih sayang) Allah Azza wa Jalla diturunkan dari atas mereka” (Tafsir ath-Thabari, XII/341).

Tahapan Godaan Iblis

Pada akhir pembahasan tafsir surat al-Mu’awwidzatain (surat an-Nas dan al-Falaq), Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan rencana strategis setan dalam menghembuskan kejahatan dan tipuannya kepada manusia. Rencana tersebut telah disusun dalam tahapan-tahapan “serangan” yang rapi dan terstruktur. Penting bagi kita untuk mengenali tahapan-tahapan itu.

Tahapan pertama, setan mengajak manusia melakukan perbuatan kufur dan syirik, menentang Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang paling diinginkan oleh iblis dan bala tentaranya : setan. Dengan cara ini, setan telah berhasil menyesatkan banyak orang. Jika setan putus asa dan tidak mampu menyeret manusia ke dalam perbuatan kufur, maka setan akan mencoba menggodanya dengan tahapan berikutnya.

Tahapan kedua, yaitu setan mengajak manusia untuk mengamalkan perbuatan bid’ah dalam agama, baik bid’ah dalam masalah aqidah, ibadah maupun amal perbuatan (muamalah). Bid’ah merupakan perbuatan dosa, yang pelakunya sulit diharapkan bertaubat. Mengapa? Karena setan memberi gambaran yang indah dalam benak manusia, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan kebenaran dan ahli bid’ah memercayai bisikan setan ini. Karena anggapan yang baik atas perbuatan bid’ah membuat pelakunya susah melepaskan diri dan bertaubat dari perbuatan yang dianggap baik ini, padahal sebenarnya menyesatkan. Ketika berhasil menyeret seseorang ke dalam tahapan ini, maka setan akan merasa lega. Namun, jika setan tidak mampu menyeretnya ke dalam perbuatan bid’ah, maka dia akan menjebak dan menggiring manusia kepada tahapan berikutnya.

Tahapan ketiga, yaitu setan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar dengan berbagai macam variasinya. Setan memanfaatkan tentara dan para abdinya untuk menyebarkan perbuatan dosa ini, terutama jika perbuatan dosa ini dilakukan oleh penguasa atau orang yang diidolakan. Tujuannya supaya perbuatan-perbuatan mereka dijadikan argumen.

Dalam tahapan ini, setan berhasil menyesatkan banyak orang. Banyak manusia terkubang dalam kemungkaran-kemungkaran. Setan menghiasi amal-amal para idola di kalangan manusia, sehingga mereka menjadi pioner yang mengajak ke perbuatan maksiat secara nyata, atau mungkin dengan ucapan. Sedangkan orang yang tidak mampu digoda setan dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa-dosa besar, maka setan berusaha menyeretnya ke tahap berikutnya.

Tahapan keempat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil, sebagai gerbang memasuki dosa-dosa besar. Dosa-dosa kecil ini terkadang dianggap remeh oleh manusia dan tidak peduli dengan pelakunya. Padahal dosa-dosa kecil itu menyeret untuk melakukan dosa berikutnya. Tentang dosa-dosa kecil ini, Nabi kita sudah berpesan, “Jauhilah muhqiraat adz-dzunuub (dosa-dosa yang diremehkan). Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil yang diremehkan itu seperti suatu kaum yang singah di satu lembah, lalu satu orang datang membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lainnya juga demikian sampai mereka mengumpulkan banyak kayu bakar yang bisa mematangkan roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil yang diremehkan itu, kapan pelakunya dibalas maka akan menghancurkannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah, no. 389).

Menganggap kecil suatu dosa bisa menjadikannya besar di sisi Allah Ta’ala. Perlu disadari, bahwa dosa besar terkadang diiringi dengan rasa malu, takut, dan merasa itu dosa besar yang berbahaya sehingga ia menjadi kecil. Sementara dosa kecil terkadang diiringi sedikit malu dan tidak digubris, tidak takut, dan diremehkan sehingga lama-kelamaan ia menjadi besar. Sebagaimana perkataan ulama salafush-shalih, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar. Sebagian yang lain mengatakan, janganlah melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan Dzat yang kita bermaksiat terhadap-Nya. Sesungguhnya maksiat, yang kecil maupun yang besar, adalah besar di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Jika setan merasa lemah dan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan-perbuatan dosa ini, maka setan menggoda manusia dengan tahapan ke-lima.

Tahapan kelima, yaitu menyibukkan manusia dengan perkara-perkara mubah yang tidak mendatangkan pahala dan juga tidak mengakibatkan dosa. Menyibukkan perkara-perkara mubah, berarti menyia-nyiakan waktu dan usia, tidak memanfaatkannya dengan kebaikan dan perbuatan shalih.Betapa banyak manusia tertipu dengan perkara-perkara mubah, berlebih-lebihan dalam makanan, minum, rumah, pakaian. Demi keperluan ini, manusia telah menyia-nyiakan sejumlah harta, usia dan waktu, lalai dengan kebaikan, tidak berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga perbuatan mubah ini bisa menjadi penyebab seseorang lupa kepada akhirat dan lupa melakukan persiapan untuk menyongsongnya.

Apabila manusia juga tidak bisa dijerumuskan dengan tahapan ini, maka setan akan mengganggunya dengan tahapan ke-enam.

Tahapan keenam, yaitu mengalihkan perhatian manusia dari amalan-amalan yang lebih baik kepada amalan yang dibawahnya. Sebagai misal, seseorang akan menggunakan harta untuk hal-hal yang bernilai baik tetapi kurang. Disibukkan dengan amalan-amalan marjuh (bernilai baik tetapi kurang), sehingga (salah satu wujudnya) mempelajari ilmu-ilmu yang tidak memiliki urgensitas dan kehilangan ilmu yang banyak.

Terakhir, siapakah yang bisa selamat dari penyesatan yang dilakukan oleh iblis? Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya telah dijawab langsung oleh iblis. Allah telah menyebutkannya dalam firman-Nya, “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali para hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka” (QS. Shaad :82-83). Pada ayat ini, Iblis mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menyesatkan hamba Allâh yang disifatkan dengan al-mukhlashin atau al-mukhlishin (dalam qira’ah lain). Jika dibaca al-mukhlishin, maka mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan dan tauhid kepada Allah Azza wa Jalla. Dan jika dibaca al-mukhlashin, maka mereka adalah orang-orang yang Allah jadikan mereka sebagai orang yang ikhlas untuk mentauhidkan Allah (Lihat Tafsîr al-Baghawi IV/381).

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari semua makar dan tipu daya iblis dan setan serta memasukkan kita semua ke dalam Jannah Firdaus. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll Up