info@wahdahgowa.or.id    +62 852-4204-6727
TERBARU
  • ...
  1. Beranda
  2. /
  3. Artikel, Artikel Muslimah
  4. /
  5. Dibalik Budaya Konsumerisme dan...

Dibalik Budaya Konsumerisme dan Idealisme Zuhud

Dibalik Budaya Konsumerisme dan Idealisme Zuhud

Oleh: Fauziah Ramdani ( Aktivis Muda Muslimah Wahdah )

Kita hidup di masyarakat komoditas, dimana produksi barang-barang terjadi begitu cepat, dimana   pusat-pusat perbelanjaan modern tumbuh subur tak terbendung hingga dengan mudah kita bisa menyaksikan orang-orang terdorong untuk mengunjungi dan berbelanja,bahkan walaupun sebelumnya tidak direncanakan dari rumah.

Demikianlah realitas masyarakat kini di pusat-pusat perbelanjaan inilah  para pengunjung akan cenderung dibimbing bahkan terhipnotis dengan brand-brand tertentu untuk  kemudian membeli sesuatu setelah melihat dan tertarik pada suatu produk,lalu kemudian akan memutuskan untuk membeli setelah proses berinteraksi dengan produk barang.

Maka  sebagaimana yang dijelaskan oleh Yasraf Amir Piliang (dalam Subandi, 2005:177), meningkatnya arus dan jenis fashion, food dan fun di pusat-pusat perbelanjaan dalam kecepatan yang tinggi memberikan cara sangat efektif dalam memacu kecepatan produksi dan konsumsi masyarakat modern secara umum, tentunya tidak hanya berlaku pada model pakaian saja, tetapi juga pada model barang lainnya. Termasuk yang berhubungan dengan gaya hidup dan rekreasi.

Betapa tidak, hal itu terjadi hari ini, ditambah lagi dengan dicekik nya masyarakat oleh tangan-tangan media massa baik cetak maupun elektronik terutama iklan yang secara masif telah membentuk perilaku konsumtif seseorang. Iklan diakui telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat, yang tentu saja  dapat membentuk pengetahuan dan pengalaman seseorang untuk berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan. Interaksi antara seseorang dan media iklan inilah yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen sebelum memutuskan untuk memilih dan membeli produk. Maka setelah kita menyaksikan bahkan menjadi satu diantara sekian orang yang menjadi korban dari budaya konsumtif ini,apa yang harus dilakukan? Berhenti membeli, berhenti tertarik dengan persuasifnya iklan-iklan media cetak dan elektronik atau menutup mata dengan fenomena yang kian menggurita ini?

Jawabannya adalah kembali kepada pribadi kita masing-masing. Mengendalikan diri, mengontrol gejolak belanja dan hasrat memiliki sesuatu secara berlebihan. Budaya konsumerisme yang diwariskan oleh bangsa Eropa dengan sistem kapitalisasinya ini secara sadar harus ditekan bukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam produksi dan profit barang tersebut. Tetapi sikap penekanan yang dikembalikan kepada diri kita sendiri yang memulai, yang menggunakan dan mengakhirkan suatu pemakaian produk tertentu. Keberadaan  alat komunikasi telepon selular seperti android yang semakin canggih misalnya, sejatinya harus dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan kepentingan masing-masing personal. Bukan lagi kepada tuntutan atas asumsi-asumsi masyarakat era modern dimana gengsi,mode dan spesifikasi android harus dipukul rata sama persis dan canggihnya satu sama lain. Seorang pengusaha atau pemimpin perusahaaan mungkin lebih tepat membutuhkan sejumlah giga byte dibanding dengan seorang siswa atau masyarakat umum karena kepentingan yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat.

Olehnya mengapa syariat ini mengatur dengan apik bagaimana seharusnya kita bersikap  menghadapi sebuah tatanan hidup masyarakat modern yang menjadi realitas kini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  dari sahabat Abu Abbas Sahl bin Sa’d as Sa’idi radhiallahu’anhu ,dia berkata: “Seseorang mendatangi Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam  dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan , Allah dan manusia akan mencintaiku.” Maka beliau bersabda, “ Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya engkau akan dicintai manusia.” (HR.Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan)

Bersikap zuhud adalah jawabannya. Jawaban atas kondisi yang tengah dihadapi hari ini dan kelak yang tidak dimengerti kapan berakhirnya. Meski manusia harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan standar  pemenuhan sandang, pangan dan papan, bukan berarti syariat ini menghalalkan segala bentuk dan cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa ada rambu-rambu yang menjadi tuntunan apa dan bagaimana yang harus kita lakukan.

Budaya konsumerisme ini  tentu akan terobati dengan sebuah hadist yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ,agar segera memutuskan untuk bersikap zuhud. Masyarakat awwam mungkin masih asing mendengar istilah ini, kezuhudan dalam berkehidupan. Meski para ulama berbeda pendapat mengenai apa pengertian zuhud itu , akan tetapi barangkali definisi yang dituturkan oleh Abu Sulaiman ad-Darani bisa mewakili pengertian secara umum zuhud itu sendiri. Bahwa zuhud adalah meninggalkan hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah. Menyibukkan diri dengan urusan dunia, pekerjaan, bisnis, permainan dan semacamnya hingga membuat kita lalai terhadap Allah Ta’ala maka, sikap zuhud adalah dengan meninggalkannya hal-hal tersebut.

Dunia ini tidak tercela secara mutlak meski Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  bersabda dalam hadist Muslim, saat beliau pernah melewati pasar diiringi oleh orang banyak di sebelah kanan dan kiri beliau. Saat itu beliau menemukan bangkai seekor anak kambing yang catat telinganya, sambil bertanya yang artinya, “Siapa yang mau membeli kambing ini dengan harga satu driham?” Orang-orang menjawab, “Kami tidak mau membelinya berapa pun harganya. Untuk apa?” Beliau bertanya lagi, “Apakah ada yang suka memilikinya tanpa membeli?” Mereka menjawab , “Demi Allah, seandainya kambing itu masih hidup, Ia pun cacat karena telinganya kecil. Apalagi sudah mati seperti ini.” Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, sugguh dunia itu di sisi Allah nilainya lebih hina daripada bangkai cacat ini di mata kalian.”

Dalam hadist ini betapa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengumpakan dunia seperti bangkai seekor anak kambing yang catat. Ia tidak memiliki nilai sama sekali, bahkan jika pun harus diberi secara gratis pasti tidak ada yang mau menerimanya. Walaupun demikian, tidak serta merta kita harus alergi terhadap harta dunia. Sebab tidak mungkin uang jatuh dari langit, tidak mungkin makanan lezat bisa tersaji didepan mata jika manusia tidak berusaha dengan bekerja  keras memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Karena bagaimanapun hidup manusia tidak akan berjalan lancar tanpa adanya harta dunia,meski Allah lah yang menjamin kebutuhan atas penghidupan ini, tetapi realitasnya kitalah sebagai manusia berakal yang harus mampu menerjemahkan dan merealisasikan kebutuhan sehari-hari. Seksama kita lihat banyaknya ibadah yang melibatkan harta, semisal sedekah dijalan Allah, berinfak untuk kegiatan dakwah dan kepada orang-orang yang membutuhkan tentu memerlukan harta.

Olehnya mengapa suatu ketika Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mendengar seseorang yang mencela dunia, kemudian beliau mengatakan, “Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Dunia pun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri yang berkecukupan bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal kehidupan kekal abadi; akhirat.” Hingga kemudian ungkapan inilah yang membuat Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Dunia ini tidak tercela secara mutlak.” Inilah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu.

Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikannya sebagai bekal untuk beramal shaleh. Pun juga dunia bisa jadi tercela bagi siapa yang menjadikannya semata-mata untuk menumpuk harta benda dan melalaikan Allah Ta’ala termasuk diantaranya adalah menumbuh kembangkan budaya konsumerisme didalam berkehidupan.

Idealisme zuhud bukan berarti hidup tanpa harta,bukan berarti hidup dengan derita dan kekurangan. Maka  semua itu bergantung pada sikap manusia dalam memperlakukan dunia. Bila seseorang memiliki harta melimpah dan ia mampu menjadikan harta tersebut sebagai sarana dekat kepada Allah dan tidak melalaikanNya, maka tentu saja bisa disebut sebagai sikap zuhud. Ketika seseorang mampu menahan diri dari perbuatan maksiat dan tidak lalai dari Allah walaupun memiliki harta yang melimpah. Sebaliknya bila seseorang memiliki harta melimpah, tetapi harta tersebut membuatnya lalai dari ibadah kepada Allah, maka ini perilaku tercela yang harus segera ditinggalkan. Bahkan seorang yang miskin sekalipun dan ia bekerja secara berlebihan sehingga melalaikannya dari ibadah kepada Allah maka ia pun tidak bisa disebut sebagai zuhud.

Maka apa yang harus kita jawab dari persoalan realitas konsumerisme ini? Tentu saja adalah mengambil sikap  bijak, berwibawa dan santun. Memilih sikap pertengahan, tidak mengharamkan yang halal dan mengabaikan harta lalu meyakini bahwa realitas konsumerisme hanya bisa dijawab dengan suatu panggilan hati; kezuhudan.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll Up